Search Results for « SDN »
Some sources are temporarily unavailable. Results may be incomplete; please try again shortly.
Latar Belakang : Program literasi telah menjadi perhatian penting dalam pendidikan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi implementasi program literasi di sekolah dasar di daerah Riau, dengan fokus pada empat sekolah dasar yaitu …
Read the full abstract
Latar Belakang : Program literasi telah menjadi perhatian penting dalam pendidikan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi implementasi program literasi di sekolah dasar di daerah Riau, dengan fokus pada empat sekolah dasar yaitu SDN 193 Pekanbaru, SDN 190 Pekanbaru, SDN 181 Pekanbaru, dan SDN 177 Pekanbaru. Metode : Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data berupa observasi kelas, wawancara dengan guru dan siswa, serta analisis dokumen terkait program literasi. Hasil dan Pembahasan : Dari hasil analisis Program literasi yang dilakukan di sekolah dasar juga telah berhasil mengembangkan minat baca siswa. Dengan menerapkan pendekatan yang menarik dan interaktif, siswa menjadi lebih tertarik untuk membaca buku dan materi bacaan lainnya. Mereka mulai menikmati kegiatan membaca dan melihatnya sebagai kesenangan daripada tugas yang membosankan. Hal ini berdampak positif pada kebiasaan membaca siswa di luar lingkungan sekolah. Kesimpulan : Dari hasil penelitian dengan melakukan pengamaan di SDN 193, SDN 190, SDN 181, dan SDN 177 Pekanbaru, dapat dilihat bahwa sejauh ini program literasi yang telah dijalankan adalah jenis literasi baca tulis dan literasi budaya dan kewargaan. Pihak sekolah merancang tahapan pelaksanaan mulai dari pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran dengan sebermutu mungkin. Tahap-tahap ini juga disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi peserta didik di lingkungan sekolah.
The problem in this study is related to the implementation of literacy in elementary schools (SD). This study uses a literature study from previous research observation reports. Data tracking is done by conducting searches during observations in elementary schools. From …
Read the full abstract
The problem in this study is related to the implementation of literacy in elementary schools (SD). This study uses a literature study from previous research observation reports. Data tracking is done by conducting searches during observations in elementary schools. From the results of the search, it was found that several literacy practices were implemented in elementary schools and regarding literacy that had not been implemented in elementary schools. The obstacles encountered in implementing some of the non-existent literacy are demanding the abilities of students and teachers, students who have not been able to think critically and teachers who do not know how to apply it properly and correctly.
This study aims to describe the implementation of literacy programs in four elementary schools, namely SDN 006 Terpadu Kubang Jaya, SDN 019 Koto Baru, SDN 037 Karya Indah, and SDN 044 Karya Indah. The research method used is a descriptive …
Read the full abstract
This study aims to describe the implementation of literacy programs in four elementary schools, namely SDN 006 Terpadu Kubang Jaya, SDN 019 Koto Baru, SDN 037 Karya Indah, and SDN 044 Karya Indah. The research method used is a descriptive approach with data collection techniques through observation, interviews, and documentation. The results of the study show that the four schools have implemented literacy programs well through integrating literacy into the curriculum, using creative learning methods, utilizing existing resources, and working with parents. This literacy program has had a positive impact in increasing students' interest in reading, reading, writing and speaking abilities. However, there are several challenges that need to be overcome, such as limited resources and inadequate support from related parties. This research provides recommendations for developing and improving literacy programs in elementary schools as an effort to form a generation that is literate and critical in reading and writing.
Gerakan Literasi sekolah (GLS) yang sedang dijalankan oleh pemerintah dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan minat baca dan membiasakan siswa untuk membaca buku walau hanya selembar. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan …
Read the full abstract
Gerakan Literasi sekolah (GLS) yang sedang dijalankan oleh pemerintah dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan minat baca dan membiasakan siswa untuk membaca buku walau hanya selembar. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana implementasi program-program literasi di beberapa SD yang berada di kota Pekanbaru dan kabupaten Kampar. Adapun SD yang dijadikan sebagai objek penelitian yaitu SDN 42 Pekanbaru, SDN 21 Pekanbaru, sdn 024 Tarai Bangun, dan SDN 017 Pandau Jaya yang meliputi beberapa literasi seperti literasi baca-tulis, literasi sains, numerasi, literasi finansial, literasi digital, dan literasi budaya-kewargaan. Metode yang digunakan untuk melakukan penelitian ini adalah observasi dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini berguna untuk menambah wawasan mengenai keberhasilan pelaksanaan program literasi, tantangan yang dihadapi maupun saran demi pelaksanaan yang baik.
Pengembangan sumber daya pendidik tingkat dasar kecamatan Kota Manna Kabupaten Bengkulu Selatan ( Studi di SDN 01, SDN 02, SDN 05, dan SDN 13 Kota Manna Bengkulu Selatan). Peningkatan mutu pendidikan khususya di sekolah dasar merupakan focus perhatian dalam rangka …
Read the full abstract
Pengembangan sumber daya pendidik tingkat dasar kecamatan Kota Manna Kabupaten Bengkulu Selatan ( Studi di SDN 01, SDN 02, SDN 05, dan SDN 13 Kota Manna Bengkulu Selatan). Peningkatan mutu pendidikan khususya di sekolah dasar merupakan focus perhatian dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Itulah sebabnya, pendidikan senantiasa memerlukan upaya perbaikan dan peningkatan sejalan dengan semakin tingginya kebutuhan dan tuntutan kehidupan masyarakat. Salah satu komponen penting yang paling berperan dalam peningkatan mutu pendidikan adalah kualitas para pendidik, dalam hal ini guru dalam rangka memenuhi tuntutan akan semakin pesatnya komunikasi dan informasi. Mencermati berbagai kemajuan itulah pemerintah membentuk beberapa organisasi penjamin mutu pendidikan dan lembaga-lembaga pembinaan dan professional guru melalui proyek PEQIP (Primary Education Quality Improvement Project) atau yang disebut dengan proyek peningkatan mutu pendidikan sekolah dasar yang meliputi; (a). Kelompok kerja guru(KKG), (b). Kelompok kerja kepala sekolah (KKKS). Keberadaan kegiatan KKG dan KKKS merupakan bagian integral dari perwujudan sistem pembinaan kompetensi guru, yang di dalamnya terdapat serangkaian kegiatan peningkatan mutu pendidikan, dan kemampuan professional guru. Kelompok kerja guru (KKG) merupakan suatu wadah dalam pembinaan kemampuan professional guru, pelatihan dan tukar menukar informasi, dalam suatu mata pelajaran tertentu sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kelompok kerja Kepala Sekolah merupakan suatu wadah dalam pembinaan peningkatan keterampilan kepemimpinan Kepala Sekolah melalui administrasi pendidikan
Sekolah merupakan salah satu sumber transformasi pengetahuan mengenai strategi penyiapan dini terhadap bencana alam pada siswa. Ilmu pengetahuan dapat dikembangkan sebagai software yang dapat dimanfaatkan sebagai media mitigasi bencana untuk meminimalisir kerugian yang mungkin saja timbul ketika bencana-bencana alam itu …
Read the full abstract
Sekolah merupakan salah satu sumber transformasi pengetahuan mengenai strategi penyiapan dini terhadap bencana alam pada siswa. Ilmu pengetahuan dapat dikembangkan sebagai software yang dapat dimanfaatkan sebagai media mitigasi bencana untuk meminimalisir kerugian yang mungkin saja timbul ketika bencana-bencana alam itu terjadi, baik kerugian materiil atau nonmaterial. Di Kota Yogyakarta, ada beberapa sekolah yang dicanangkan sebagai sekolah siaga bencana (SSB). Permasalahan yang sering muncul dan dirasa menjadi kendala bagi sekolah siaga bencana tersebut, antara lain: 1) semua mata pelajaran yang diajarkan sesuai kurikulum harus diintegrasikan dengan siaga bencana, 2) guru harus memasukkan nilai-nilai kesiagaan menghadapi bencana dalam berbagai media dan materi pembelajaran, 3) masih terbatasnya alat peraga/ media dan fasilitas yang ada di sekolah siaga bencana. Melalui program IbM yang direncanakan berlangsung selama 8 bulan dengan kerjasama Mitra SDN Baluwarti, SDN Bangunrejo 1, dan SDN Bangunrejo 2 diharapkan dapat membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi dengan menyediakan alat peraga/ media untuk menyampaikan materi siaga bencana kepada siswa. Salah satu media yang dapat digunakan adalah buku cerita anak. Oleh karena itu, perlu adanya pelatihan penulisan buku cerita anak bagi guru untuk media mitigasi bencana. Metode yang digunakan adalah mengidentifikasi permasalahan mitra, orentasi, praktek lapangan, dan refleksi. Hasil pengabdian ini adalah terciptanya tiga buku cerita anak bermuatan bencana, yaitu Gempa Gempita, Kecil Jadi Kawan, Besar Jadi Lawan, dan Gemuruh di Sekolah. Ketiga bencana tersebut merupakan bencana yang seringkali melanda masing-masing sekolah tersebut. Dengan buku cerita bermuatan bencana anak dapat mengetahui dan memahami tentang jenis bencana dan penanggulangannya. Dengan buku cerita, anak dapat mengetahui pengetahuan tentang bencana dengan mudah, karena buku tersebut tidak hanya menyuguhkan isi berupa tulisan naratif tetapi ilustrasi gambar yang menarik.